adiyana

adiyana

Sunday, November 1, 2020

Kopi Senja

 


Kopi Senja

Bagiku ….

 kopi dan senja adalah dua hal berbeda yang saling melengkapi

Jingga Senja  yang indah selalu menutupi rasa pahit kopi

Meskipun rasa itu  hanya sesaat. karena  sebentar lagi jingga akan segera berlalu ,

Menggantikan  gelap  malam

Bagiku…………

Kopi dan senja adalah dua hal berbeda yang saling melengkapi

Menyeruput kopi disaat senja  sambil menikmati indahnya jingga , Menciptakan suasana damai

Meskipun rasa itu hanya sesaat karena  sebentar lagi jingga akan segera berlalu ,

Menyisakan   gelap  malam

Bagiku…

Kopi dan senja adalah  dua hal berbeda yang saling melengkapi

Kopi mengajarkan aku arti  sebuah kejujuran, bahwa hidup tidak selalu manis  , akan ada  sisi pahit yang kita rasakan.

Dan senja..

Senja… selalu mengajarkan arti rela melapskan sesuatu yang sangat berarti dalam hidup kita, karena indahnya jingga senja hanya sesaat yang dirasakan

Ternate, 01 Nopember 2020

Adiyana

 

 

 

 

Sunday, September 27, 2020

Pentingnya Menumbuhkan Kecerdasan Emosional dan kecerdasan Spiritual Anak

 

 



 Pentingnya Menumbuhkan  Kecerdasan Emosional dan Kecerdasan Spiritual Anak

 

Akhir-akhir ini , banyak sekali berita di media masa baik versi cetak maupun versi online yang memberitakan tentang kasus pembunuhan  yang dilakukan seorang anak terhadap orang tuanya.Miris memang , seorang ibu yang mengandung dan melahirkan si anak harus mati dibunuh oleh anak kandungnya sendiri .  Kasus seperti ini bukan hanya terjadi di luar negeri tetapi di Indonesia bahkan sampai ke daerah- daerah pun kerap  terjadi.

Terlepas dari apa yang melatarbelakangi hingga kasus ini bisa terjadi adalah masalah kedua,  tetapi inti dari permasalahan kasus ini adalah terletak dari  karakter masing-masing  anak . Karakter adalah ciri khas sesorang  yang membedakan  dirinya dengan yang lain. Dalam karakter terdapat sifat-sifat, tempramen, watak  ataupun perangai yang  sering di sebut dengan kepribadian, sehingga dalam pengertian keduanya   hampir tidak bisa dibedakan antara karakter dan kepribadian karena keduanya membicarakan ciri khas yang dimiliki seseorang .

 Sadar atau tidak sadar ternyata pembentukan karakter anak sudah dimulai pada saat anak berada dalam kandungan ibunya, apa yang dilakuakan ibu nya secara tindak langsung merupakan pendidikan bagi anak yang dikandungnya ( indirect education).  Pembentukan kareakter anak memang sudah seharusnya dimulai sejak usia dini,  karena usia dini merupakan masa-masa kritis yang akan menentukan sikap dan perilaku sianak  di masa yang akan datang.

Setelah tumbuh menajdi remaja dan dewasa, anak-anak  kemudian mengenal dunia pendidikan formal yaitu sekolah , disinilah anak-anak mulai bergaul dengan  sesama  teman yang berbeda latar belakang kehidupan. Sayangnya pada dunia pendidikan formal inilah anak- anak hanya   diajarkan kecerdasan intelektual semata tanpa kecerdasan emosional dan tanpa kecerdasan spiritual. 

Kecerdasan emosional adalah kemapuan untuk merasa, orang menyebutnya EQ atau Emosioan Quetient dan itu tidak pernah diajarkan  dibangku sekolah, apakah SD, SMP atau SMA atau bahkan sampai universitas. Anak-anak  yang Kecerdasan Emosional nya rendah akan berdampak buruk bagi mentalnya , merasa stress, gampang kecewa, tidak mengenal emosinya sendiri,pendendam,  bahkan sampai pada taraf gagal memahami teman .

Begitu pula dengan kecerdasan spiritualtas . Kecerdasan spiritualitas atau SQ atau spiritual Quetient atau spiritual intelejen  adalah  kemampuan  untuk mendengar hati  nurani dan faham siapa jati diri dan suara hati yang merupakan fitrah yang terdalam. Pada zaman skarang ini , spiritual anak  semakin   merosot, dan ini sangat memprihatinkan. Keadaan  ini terjadi tidak hanya pada kalangan masyarakat tertentu  saja, tetapi hampir terasa pada seluruh tingkatan kehidupan, baik di desa ataupun dikota. Bisa dilihat, banyak dikalangan pelajar atau remaja ataupun masyarakat awam lainnya sekarang ini yang terlibat dengan narkoba, minuman keras, kekerasan dalam pergaulan, kriminalitas, tak segan untuk tidak mematuhi dan menghormati orangtua, bahkan sampai ada yang membunuh orangtuanya  sendiri. Hal ini terjadi karena kurang kuatnya penanaman nilai-nilai spiritual dalam diri anak sejak ia masih usia dini , bahkan sejak anak  itu berada dalam kandungan ibunya. Oleh karena pembentukan kecerdasan spiritual anak dipengaruhi oleh faktor bawaan dari orang tua yang didapat semenjak anak berada dalam kandungan dan  faktor lingkungan sosialnya yang ia dapatkan setelah dia berada di dunia.

Dengan dasar inilah  membuat  anak-anak akhirnya  terbiasa mengabaikan emosi, terbiasa mengabaikan  hati nurani, sambil berkata bahwa emosi dan hati tidak berpikir tapi otak yang berpikir.

Pada keadaan seperti ini dibutuhkan komunikasi yang aktif antara orang tua dan anak, pemahaman agama yang baik dari orang tua kepada anak sejak dalam kandungan hingga masa kanak –kanak   akan melatih kecerdasan spiritual anak menjadi lebih baik,sehingga si anak akan tumbuh dan berkembang dengan dasar ahlak  mulia dan terdidik ,  hidup , berkembang dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya  dengan dasar cinta dan kasih sayang yang diajarkan orang tua kepadanya. Dengan demikian si anak akan menghindarkan  diri dari perbuatan buruk sekalipun dalam kondisi  kehidupan seberat apapun, karena sianak telah mampu mengontrol emosi dirinya.

Jika setiap orang tua memahami betapa pentingnya menumbuhkan  kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual  kepada anak sejak dini, mungkin tidak akan terjadi sianak  tidak mematuhi dan menghormati orangtua  atau  bahkan tidak akan terjadi pembunuhan yang dilakukan si anak kepada orang tua.   

Semoga kita  semua  terhindar dari hal- hal yang tidak kita inginkan, dan semoga Allah swt selalu menjaga anak-anak kita dari sifat yang buruk. Aaminn yaa Rabbal alamin.

Ternate, minggu 27 September 2020

Penulis,

 

Adiyana adam,

 

 

Saturday, August 29, 2020

RINA, SI FEMININ YANG MASKULIN

\




 Rina, si Feminin yang Maskulin

Keterpurukan ekonomi  masyarakat pedesaan karena berbagai faktor membuat banyak masyarakat  desa yang pindah kekota dengan alasan mencari pekerjaan yang layak  agar   bisa menghidupkan keluarga. Apalagi jika salah seorang diantara keluarga mereka sudah ada yang menetap walaupun hanya berifat sementara di perkotaan, ini juga menjadi alasan seluruh atau sebagian keluarganya berpindah tempat didesa menuju kota. Masalah  apa yang terjadi nanti di kota bukan menjadi soal, yang penting bagi mereka bahwa daerah perkotaan banyak menjanjikan pekerjaan. Perempuan atau laki-laki, Tua atapun muda  ini juga bukan menjadi suatu masalah , yang penting  kemauan  dan niat untuk bekerja

     Rina, salah seorang penduduk kecamatan Gane Barat,Kabupaten Halmahera selatan beserta ibu  dan satu adiknya  adalah salah satu keluarga  yang pindah ke kota (Ternate).  Dari hasil perbincangan kami  berdua di sela sela kesibukannnya bekerja alasan dia dan keluarganya ke Ternate  karena  di desa sulit mendapatkan pekerjaan,sehingga untuk menunjang ekonomi keluarga sangat sulit. Ayah mereka tempat sandaran hidup untuk mencari nafkah sudah lama meninggal dunia, sehingga kalaupun di desa mereka mempunyai kebun tapi terasa sulit untuk mengolah nya. Salah satu alasannya juga mengapa keluarga Rina mau berurban ke Ternate karena  ada saudara perempunyannya yang sudah bekerja di Ternate , yaitu di sebuah toko di seputaran kota Ternate   . Dengan berbekal Pendidikannya yang hanya sampai di sekolah dasar , Rina dan keluarganya memberanikan diri ke Ternate dengan maksud bisa bekerja apa saja yang penting bisa menopang hidup keluarganya.

Lokasi tempat Rina bekerja hanya seputaran pasar .Pekerjaannyapun  serabutan sesuai dengan permintaan pedagang ikan atau pedagang sayur,  kadang  dia  mengangkat sampah bekas penjualan ikan atau bekas penjualan sayur lalu dibuangnya ke tempat penampungan sampah, kadang juga dia mengangkat ikan dari perahu ke tempat dimana pelanggan ikan itu berjualan.Upah yang diberikan dari hasil kerjanya hanya sekitar 20.000 rupiah kadang juga kurang dari 20.000 rupiah , dan setiap harinya Rina mengumpulkan uang sekitar 200 ribu rupiah dari kerjanya sehari penuh.

Hampir setiap kali aku ke pasar ikan , selalu  kudapatkan  Rina sedang melakukan aktifitasnya,. Dengan ember di bahunya yang penuh  dengan sampah pembuangan ikan, Rina melakukan kegiatannya membuang sampah , perawakannya agak tinggi, dengan potongan rambut pendek menyerupai laki-laki, dan sering menggunakan kaos oblong dan celana pendek, jika di lihat sepintas, pasti orang mengira Rina seorang laki-laki, karena kebiasaan laki-laki jika mengangkat barang yang berat pasti dipikul dipundaknya dan  perempuan biasanya di tenteng atau di taruh di atas kepalanya, cara

 

 

Begitulah keseharian Rina, yang bekerja dari pagi  hingga  sore hari menjelang malam, kadang dia pulang ke rumah kontrakannya untuk menemui ibu  dan saudaranya , menyerahkan seluruh upah kerja untuk ibunya , kadang juga tidak ,  bahkan terkadang Rina tidur disekitar pasar  dimana ada tempat yang bisa di gunakan untuk berbaring disitulah dia tidur. Kehidupan pasar yang keras bahkan kadang tidak berperikemanusiaan sepertinya tidak terpikirkan oleh Rina yang memang sebelumnya tidak dipikirkan akan terjadi . Apa yang ada dalam pikiran Rina hanya bekerja dan mendapatkan uang yang banyak demi memenuhi ekonomi keluarganya, untuk kelangsungan hidup ibu dan adik nya yang sedang bersekolah.

Hidup  dilingkungan pasar membuat Rina selalu berhubungan dengan masyarakat disekitar nya yang rata-rata ekonominya lemah,  dimana masyarakat seperti ini mudah sekali memunculkan ledakan emosisonal yang tak terkendali, mendorong perbuatan dan budaya kekerasan dan bahkan  beranggapan  bahwa kehadiran wanita hanya sebagai pelampiasan hawa nafsu.Pada  suatu ketika Rina pun diperkosa, siapa pelakunya  dia sendiri tidak tahu ini terjadi 1 tahun setelah dia berada di Kota Ternate. Sayangnya  waktu 1 tahun belum bisa membuat Rina betu- betul memahami karakter  hidup masyarakat pasar. Kepada siapa Rina mau melaporkan masalah pemerkosaan atas dirinya, dia sendiri tidak tahu, karena memang orang pasar beranggapan Rina tidak seperti perempuan normal lainnya. Masyarakat pasar menganggap sosok Rina adalah perempuan yang tidak Normal jiwanya.

Sempat  aku tanyakan tentang kedadaan anak nya, Rina menjawab anaknya seorang perempuan,semenjak lahir sudah di ambil dan dipelihara  oleh seorang polisi yang dia sendiri tidak  tahu identitas polisi tersebut. Sempat juga aku tanyakan perihal perasaan Rina ke anaknya, dia  menjawab bahwa dia sudah tidak mengingat anaknya lagi. Bagiku  jawaban Rina adalah sesuatu yang diucapkan bukan dari lubuk hatinya, karena keterikatan seorang anak dengan ibu kandungnya sudah terjadi semenjak anak itu berada dalam  kandungan ibunya dan mustahil seorang ibu bisa melupakannya begitu saja. Ataupun karena  Rina  adalah sosok perempuan yang mengalami keterbelakangan mental sehingga apa yang di ucapkan hanya  sekedar untuk  memenuhi jawaban sebuah pertanyaan  dan merupakan sebuah kompensasi dari keadaan mentalnya agar dia bisa melupakan semua kejadian itu

Dampak psikologis akibat kekerasan yang di alami Rina  sangat terlihat nyata, Rina sudah mulai mengkonsumsi rokok, pergaulannya pun sudah bebas dan rata rata teman-temanya adalah laki-laki. Memang apa yang dilakukan Rina saat ini adalah implenetasi  dari sebuiah  rasa kekecewaan yang mendalam yang dia sendiri tidak tahu mau melampiaskan kemana. Saat-saat seperti ini Rina butuh seseorang yang bisa membaca isi hatinya yang mau mendengarkan keluhannya bahkan memberi dorongan moril untuk dia, tapi siapa orang itu ? Rina sendiri tidak tahu. Bagaimanapun kondisi dan situasi fisik dan psyhis yang dialamai Rina  sekarang , dia  tetap berusaha tegar karena dia adalah harapan ibu adiknya dalam  penopang ekonomi keluarganya .Dengan cara Rina meleburkan diri dalam pergaulan dengan laki-laki  dan berperangai layaknya  seoramg laki-laki baik dari cara berpakaian  maupun dari potongan rambut dan  tampak maskulin , dia berharap agar tidak akan ada satupun laki- laki yang akan menggangunya lagi.

 

Ternate, 29 Agustus 2020

Pasar Ikan Ternate

 

Adiyana Adam

Penulis