adiyana

adiyana

Friday, July 17, 2020

Rama, Sang Inspirator



Rama, Sang Inspirator

Pada suatu kesempatan, setelah kami selesai makan malam sekitar jam 10 malam  WIT di seputaran belakang mol kota Ternate, terlihat seorang anak laki-laki  berusia sekitar 6 tahun, bisu  ,badannya kurus, kulit nya hitam manis, rambut yang sedikit keriting dan  tanpa menggunakan alas kaki, berlari-lari kecil menghampiri mobil yang akan  aku tumpangi, dengan menggunakan lambaian  tangan dan anggukan kepala dan sedikit suara yang tidak jelas ku dengar keluar dari mulut kecilnya  seperti menanyakan sesuatu kepada ku dengan bahasa isyaratnya  , aku sempat berbalik badan kearah suara anak itu, kulihat dia sudah berada tepat dihadapanku sambil mengisyaratkan sesuatu sembari tangannya berputar-putar dan menunjuk ke mobil yang akan aku tumpangi yang pada saat itu sudah mau keluar dari parkiran, pikir ku mungkin si bocah ini  menanyakan bahwa apakah mobil kami mau keluar dari parkiran,  aku menjawab”  iyah”  ,sambil menganggukan kepala kearah dia. Terlihat senyum melebar keluar dari bibirnya , pertanda dia paham akan jawabaanku tadi. Masih dengan bahasa isyaratnya ,bocah tadi menarik bajuku dan menyuruhku agar segera naik  ke dalam mobil , kali ini aku ikut saran si bocah, . Dengan gesitnya si bocah tadi berputar,  yang tadinya dia berada di belakang mobil sekarang sudah berada di depan mobil, dan dengan isyarat gerakan  tangan dan sedikit teriakan yang tidak jelas , bocah tadi berusaha memandu jalannya mobil yang ku tumpangi keluar dari parkiran. Mobil yang kutumpangipun berhasil keluar dari tempat parkiran yang pada malam itu terlihat sangat  banyak. Sebelum meningalkan lokasi parkiran  sempat aku berikan selembar uang kepada sibocah  tanda terima kasihku, sambil mentap kearah ku sibocah tadi menerima pemberian ku dengan diiringi gerakan hormat kepadaku.dan terlihat lucu, aku tersenyum dan dan mengisyaratkan jari jempol kepada sibocah. Bocah tadi pun berlalu dari hadapannku dengan sedikit teriakan gembira sambil melambaikan uang pemberianku.Terlihat banyak teman-temannya berlari menghampiri bocah tadi, mungkin mereka mau mencari tahu  berapa jumlah uang pemberianku tadi, si bocah hanya tersenyum sambil menunjuk kearah mobil yang ku tumpangi.

Pada kesempatan yang lain, aku berkunjung pada tempat yang sama, dan bertemu dengan si bocah itu lagi, kali ini aku tidak lagi menunggu apa yang akan dikerjakan sibocah , seperti biasanya aku berikan selembar uang yang ada dalam saku baju sebelum dia mengerjakan apa-apa. Terlihat sangat senang sekali si bocah tadi, sambil berlari-lari kecil bocah itu kembali ke kerumunan teman-temanya, tapi kali ini yang terlihat bukan teman –teman sebaya dia  yang biasa nya bersama sama menunggu parkiran malam, yang terlihat adalah para gadis-gadis yang sering ikut kelompok ngamen di seputaran tempat makan. Aku berusaha mengawasi dari jauh apa yang akan di kerjakan anak-anak gadis itu kepada si bocah, ternyata uang yang di berikan tadi ke pada si bocah , seluruhnya di ambil oleh kelompok anak gadis. Sempat akau menanyakan hal ini ke beberapa pengamen , kata mereka hal itu sudah biasa terjadi dan itulah wujud dari kebersamaan mereka.


Bagi si bocah, berbagi hasil dengan teman teman sekelompoknya adalah hal yang membanggakan , terlepas dari status mereka memperalat dia. Karena terlihat dari ekspresi wajah si bocah pada saat memberikan seluruh hasil keringatnya, dia sangat menikmati rasa kebersamaan dengan teman temannya  , atau mungkin saja dengan cara seperti itu dia bisa menyampaikan ke teman temannya tentang eksistensi dirinya  di tengah- tengah kelompok  dan salah satu cara nya  yaitu dengan sama-sama menikmati hasil keringat nya sendiri . Memang salah satu sifat anak anak jika ingin diakui dalam kelompok nya adalah dengan cara mempopulerkan diri, agresif, bekerja sama dan saling menolong, dan sifat ini ada pada si bocah tadi, padahal dia sadar bahwa dirinya sendiri berada dalam kondisi yang tidak normal yaitu bisu , tetapi dia berusaha meyakinkan teman teman nya bahwa kekurangan dia bukan berarti keterbatasan dirinya untuk berbuat sesuatu ke teman-temannya dia juga bisa bekerja sesuai komitmen bersama.

lnilah yang menjadi pelajaran bagi kita semua , yang kadang kala  tidak kita temukan di kalangan orang dewasa  tapi ada di kalangan anak-anak.  Jiwa social anak-anak  lebih tinggi dari pada kita orang dewasa. Bagaimana seorang anak penyandang cacat bisa dengan cepat merespon lingkungan tempat  dia berinteraksi social, bagaimana seorang anak cacat mengimplentasikan social –emosional nya  hanya untuk mendapatkan eksistensi dirinya di hadapan teman-temannya, tanpa pamrih..




Beberapa  hari  lalu  bocah ini sempat mengikuti penggalangan dana untuk korban banjir desa waitina Kabupaten kepulaun Sula yang saat ini sedang terjadi , bersama kelompok mahasiswa bocah ini dengan menggunakan microphone  berteriak-teriak ke pengguna jalan layaknya mahasiswa yang menyerukan aksi berbagi donasi untuk korban banjir, meskipun tak jelas apa yang dia teriakan , tetapi rasa kebersamaan dan jiwa social yang tinggi dari sibocah membuat suasana penggalangan dana oleh mahasiwa semakin bersemangat. Tak disangka.inilah saat-saat  terakhir bocah  yang ternyata bernama “ Rama”  ini  menjalankan aksi sosialnya , disaat dia sedang menjalankan aksi solidaritas penggalangan dana korban banjir si bocah RAMA tertabrak  oleh sopir angkot hingga membuat kakinya patah dan akhirnya meninggal dunia. Kepergian  Rama  ke pangkuan Ilahi Robbi pada saat dia sedang melakukan pekerjaan yang mulia dan ini jarang sekali dilakukan oleh anak - anak seumuran dia.Bocah Rama mampu mewakili anak-anak berkekurangan lainnya untuk bisa berbuat dengan tidak merasa kekurangan atas pemberian Tuhan kepada mereka

Sosok si bocah RAMA dengan segala keterbatasannya mampu memberikan canda tawa kepada sahabat-sahabatnya bahkan kepada sipapun yang pernah bertemu dengan dia , Bocah Rama memberi pelajaran  hidup yang sangat tak ternilai harganya  untuk kita semua. Semoga dengan semua pelajaran hidup yang ditinggalkan bocah Rama  membuat rasa kebersamaan  dan kepedualian kita terhadap sesama semakin dalam. Terima kasih Rama..jannah tempat mu. Aamin

  Ternate, Jumat, 17 Juli 2020

Adiyana Adam

Thursday, July 9, 2020

Tak Kenal Maka Tak sayang

Tak Kenal  Maka Tak Sayang

Tak kenal maka tak sayang  adalah sebuah pepatah lama yang sampai kini masih tetap di pakai dalam kehidupan kita , pepatah ini biasanya sering di identikan dengan interaksi antara sesama manusia pada umumnya dikarenakan kedekatan emosional antara satu dengan yang lain, kedekatan emosional yang terjadi antara satu dengan yang lain lama kelamaan membawa kita pada satu keadaan yang sulit untuk  saling melupakan karena telah timbul apa yang dinamakan kasih sayang antara keduanya.

                Tapi tahukah bahwa kedekatan kita dengan sesuatu yang tidak berwyujud juga akan menimbulkan suatu  ikatan layaknya hubungan antara manusia? Mungkin kita semua pernah alami, perasaan bosan dengan sesuatu yang kita  kerjakan dalam keadaan terpaksa, karena tugas yang harus dipenuhi dan harus cepat diselesaikan, meskipun apa yang kita kerjakan itu dengan setengah hati. Hasilnya pasti tidak memuaskan atau tidak memenuhi target seperti apa yang direncanakan. Keadaan seperti ini akan menimbulkan pertentangan dalam hati, bahkan akan menjadi penyakit hati.Alasannya  sangat simpel karena kita mengerjakannya dengan terpaksa dan karena belum familiar atau  memahami apa yang kita kerjakan tadi.

                Demikian halnya dengan mempelajari suatu ilmu, untuk  mencapai  suatu keadaan dimana kita  semakin dekat dengan suatu ilmu  diperlukan tahapan-tahapan. Awal dari tahapan itu adalah  perkenalan. Perkenalan kita dengan sebuah ilmu yang akan kita pelajari merupakan langkah awal kedekatan kita dengan Ilmu pengetahuan tersebut  .Bagimana mungkin kita mau menuntut ilmu  sedangkan hati kita tertutup untuk mempelajari ilmu tersebut . Tetapi jika  kita berusaha mendekatkan diri dari ilmu pengetahuan  dengan membuka hati secara ihlas tanpa ada paksaan untuk mempelajari ilmu tersebut maka secara naluri ilmu tersebut akan menyayangi kita dengan sendirinya. Apa yang kita pelajari dari ilmu tersebut akan mudah kita pahami, dan lama kelamaan ilmu tersebut akan menyatu dengan jiwa kita.. Inilah bentuk imbalan rasa cinta dan sayang sebuah ilmu kepada kita. 





Wednesday, June 24, 2020

Kesempurnaan Akal



Kesempurnaan Akal




Tidak mudah untuk merubah peradaban suku togutil yang baru ditemukan warga ditengah hutan Halmahera  beberapa tahun lalu hanya dalam kurun waktu yang singkat. Apalagi jika kelompok masyarakat ini sudah menjadikan hutan belantara sebagai tempat berinteraksi sessama mereka berpuluh tahun yang lalu , sejak lahir hingga dewasa bahkan sampai beranak pinak di hutan belatara, jauh dari sentuhan manusia  modern. Pola hidup dengan berpindah-pindah  tempat dimana mereka merasa nyaman disitulah mereka menetap  dan makan  dengan makanan suguhan dari alam  , sumber penghidupan mereka adalah berburu . Tempat tinggal mereka pun hanya berupa pondok-pondok kecil yang seluruh bahanya didapat dari hutan dimana mereka berada. Seluruh rangkain pola hidup suku togutil ini tidak lain adalah hanya untuk mempertahankan kelangsungan hidup mereka dari seleksi alam.


            Seiring dengan peradaban suku togutil yang totalitas kehidupannya  hanya  bergantung dari  alam secara otomatis mempengaruhi pola hidup mereka, apa yang mereka dapatkan pada hari ini dengan hasil buruan  mereka itulah yang menjadi santapan mereka dan esok harinya keadaan ini  akan berulang lagi  secara terus menerus selama suku ini masih  menjadikan hutan sebagai tempat tinggal mereka. 


Pada dasarnya Allah swt menciptakan  setiap manusia  dengan kesempurnaan yang sama, diberikan akal untuk berfikir sehingga manusia dapat menggunakan akal tersebut untuk mengembangkan diri bersosialisasi dengan lingkungan sekitar nya.  Manusia bisa bertahan hidup karena adanya akal yang dimiliki.  Kesempurnaan yang Allah berikan  tidak terkecuali kepada setiap manusia, apakah yang tempat tinggalnya di kota, di desa atau di hutan, atau apakah dia terlahir dari orang tua yang mampu atau kekurangan  semuanya  sama. Manusia menggunakan kelebihan akalnya disesuaikan dengan tempat dimana dia hidup dan berinteraksi  


            Begitu pula dengan komunitas suku togutil yang ditemukan warga, secara perlahan dan dengan  penuh kesabaran dan rasa kasih sayang mereka di bimbing , diajari  cara berkomunikasi,  cara berinterkasi dan bersosialisai, cara mempertahankan hidup ditengah masyarakat modern dan beradab. Secara perlahan pula peradaban mereka mulai berubah, jika dihutan kemampuan motoric berupa kekuatan  fisik yang selalu di gunakan  agar bisa bertahan hidup , sekarang selain fisik ditambah lagi dengan  kemapuan akal, bagaimana seorang suku Togutil dengan kemapuan akalnya sudah bisa mencari nafkah dengan berjualan agar bisa menghasilkan uang dan dengan uang itu mereka bisa melangsungkan kehidupan mereka. 


Meme Mustika adalah salah seorang suku Togutil yang  berjualan es  untuk kelangsungan hidup


Besar kecil pendapatan bukanlah menjadi suatu ukuran ,  tapi bagaimana kita menghargai suatu usaha dari  mereka  untuk merubah pola hidup mereka dari yang tidak mempunyai peradaban ke sebuah peradaban yang menjunjung tinggi norma-norma kemanusian agar mereka juga layak di sebut sebagai manusia yang beradab.



Ternate, 24 Juni 2020

Penulis

Adiyana Adam