Hadiah
Nobel Untuk Pak Ngainun
Oleh. Adiyana Adam
Pertama kali mengenal ” Pak Ngainun Naim, sekitar tahun 2017
dalam acara Workshop penelitian Litapdimas
(penelitian, publikasi ilmiah, dan pengabdian kepada
masyarakat,) yang dilaksanakan oleh Direktorat
Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Ditjen Pendidikan Islam, Kementerian Agama
RI . Saat pertama bertemu, penulis belum
terlalu mengetahui sosok pak Ngainun. Karena memang saat workshop dilaksanakan
yang penulis tahu pak Ngainun adalah
seorang Ketua LPPM IAIN Tulung Agung (
sekarang UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung)
Pada
suatu saat, kami bertemu di media Sosial Facebook, Pak Ngainun saat itu
menceritakan tentang kelas menulis online. Rasa tertarik dengan kegiatan ini,
penulispun menghubungi pak Ngainun yang kebetulan kami berada pada satu grup penelitian PTKI.
Penulis sempat bertanya tentang kegiatan
Pak Ngainun yang saat itu menjadi Mentor Kegiatan Menulis pada salah satu
Perguruan Tinggi Keagamaan Islam
Awalnya penulis
berkeinginan bergabung dengan penulis lain dalam sebuah grup menulis
online yang di bentuk oleh Pak Ngainun,
tetapi beliau menyarankan agar penulis bersama teman-teman dari IAIN Ternate
membuat sebuah grup menulis online tersendiri, maka jadilah Tiga grup menulis yang diberi nama grup “ Belajar
Online 1, “Antologi Ibu” dan” Grup Writer and Editing”. Dari beliaulah
Penulis memiliki motivasi untuk menulis. Hal ini terbukti dengan keikutsertaan
Penulis menulis dalam beberapa buku yang
dilahirkan dari dua grup menulis diatas. Memang bukan penulis utama, karena buku yang
ditulis terdiri dari beberapa penulis .
Walaupun demikian, tetap saja hal tersebut merupakan suatu kemajuan bagi
penulis, daripada tidak pernah menulis. Hal yang cukup membanggakan adalah buku
yang diterbitkan pertama kali dari hasil kolaborasi penulis bersama teman
-teman berjudul “JEJAK LITERASI DARI TERNATE”.
Terjadinya buku
antologi ini tidak dengan serta merta ada, tetapi penuh dengan perjuangan,
karena sebagian besar yang menulis dalam
buku ini adalah baru pertama kali terlibat dalam penulisan free writing. Begitu
kuat dan bersemangatnya Pak Ngainun dalam memotivasi maupun mengajari penulis
dan kawan-kawan . Menulis itu kapan saja bisa, dan tulislah apa saja !. begitu
selalu kata pak Ngainun kepada kami.
Menulislah selama 15 menit. Nanti kalo ada kesempatan menulis lagi. Begitu
seterusnya.! Ini
yang selalu terbawa dalam ingatan penulis dimanapun penulis berada. Meskipun
disadari sebagai pemula dalam menulis, penulis sangat kesulitan dalam memulai
menulis.
Ngemil... kata ini yang sering pak Ngainun sampaikan.
Artinya dalam menulis tidak perlu
langsung jadi tetapi sedikit demi
sedikit tulisan dikumpulkan hingga akhirnya menjadi suatu naskah yang siap di
bukukan.
Satu hal yang tidak pernah penulis lupa, bahwa beliau
mengajarkan penulis untuk selalu menulis
didalam Blog pribadi, selain bisa dijadikan sebagai Porto folio online ,
juga bisa membangun jaringan sesama penulis, dan yang paling
penting blog pribadi adalah tempat
mengasah kemampuan menulis. Dari pengalaman ini penulis kemudian meneruskan ke
mahasiswa dan Alhamdulilah sampai saat ini tugas –tugas mahasiswa semuanya di
buat melalui blog mereka masing-masing.
Dalam
kelas menulis online, motivasi pak Ngainun selalu membakar semangat kami, tak
henti-hentinya , beliau selalu mengajak
kami untuk tetap optimis menulis. Ada
beberapa keuntungan dari menulis yang disampaikan pak Ngainun
dalam satu kesempatan mengisi kelas belajar online . Diantaranya 1) menulis
dapat membangkitkan ide, 2). Membantu mengorganisasi gagasan dengan konsep; 3).
Menulis dapat membuat jarak antara penulis dengan gagasan-gagasan sehingga tulisan hendaknya dikoreksi dan
dievaluasi; 4). Menulis membantu menyerap
dan mengolah informasi;5). Menulis dapat membantu menyelesaikan masalah; 6).
Menulis menjadikan pembelajar aktif. Pendapat yang dituliskan mencerminkan
pengetahuan yang dimilikinya.
Catatan
Pak Ngainun di atas telah menjadi pedoman penulis, sekaipun sampai saat ini
penulis masih merasa kesulitan dalam menentukan pokok pikiran dalam menulis.
Pada suatu kesempatan , penulis juga mengikuti webinar literasi yang di
selenggarakan oleh salah satu IAIN, dimana salah satu narasumbernya adalah Pak
Ngainun. Tema yang dibawakannya adalah LITERASI DI MASA PANDEMI: Ikhtiar Tetap
Produktif bagi Akademisi. Dari
materi webinar ini, Pak Ngainun memberikan motivasi bahwa di masa pendemi
Covid-19 adalah peluang besar untuk mulai menulis.
Pak
Ngainun tidak hanya menjadi spirit of
Literasy, tetapi karya- karya beliau
tentang literasi banyak yang
dipedomani.bukan saja dari kalangan PTKI tetapi pada kampus umum atau dunia
akademik lainnya pun sangat dikenal ,
ini terbukti karena penulis pernah bersasma-sama beliau dalam grup menulis
bersama Dr. Hj. Amie Primarni, seorang penulis handal yang telah banyak
mencetak berbagai buku. Terdapat juga Bapak Muhammad Choiri seorang mentor
menulis pada grup SAHABAT PENA KITA. Dari Pak Ngainun ,penulis bisa bertemu
dengan narasumber handal yang sangat terkenal meskipun secara online.
Dalam grup menulis yang diadakan melalui media telegram yang terhimpun dalam ” Kelas Menulis Buku Daring “ penulis beserta
teman –teman di seluruh Indonesia tergabung didalamnya. Dari kelas menulis ini,
kami mencetak sebuah buku antologi dengan judul :” DARI KELAS MENULIS MENUJU
MAHAKARYA” Penulis sangat bangga dengan
diterbitkannya buku ini, karena diantara nama –nama penulis terdapat
nama- nama yang sudah terkenal dalam bidang literasi seperti mereka
bertiga diatas.
Semangat literasi Pak
Ngainun membuahkan hasil, jika pada awal kami bertemu penulis sudah menyapa
beliau dengan sebutan Pak Prof. Pada saat itu beliau belum meraih Guru Besar
professor, tetapi bagai penulis, panggilan
professor ke beliau merupakan penghargaan karena telah mengajarkan
penulis tentang bagaimana memanfaatkan waktu untuk menulis.
Semua jerih payah pak Ngainun telah terjawab, Pedikat Guru
Besar ( Profesor) telah disandangnya.
Bagi penulis predikat ini memang sangat layak untuk di peroleh Pak Ngainun. Kiprah beliau dalam dunia
Literasi sudah sangat terkenal dan patut mendapat penghargaan, jasa beliau
sebagai mentor sekaligus motivator dalam dunia menulis sudah tidah bisa lagi
dinilai dengan penghargaan apapun . Gelar Profesor adalah Apresiasi Akademik yang di peroleh Pak
Ngainun dari Pemerintah, tetapi rasanya
masih ada yang kurang jika penulis dan
teman-teman lainnya yang pernah mendapatkan ilmu dari beliau tidak memberikan
penghargaan apapun.. Pak Ngainun berhak
dan layak mendapatkan hadiah Nobel dalam dunia literasi....
Selamat kepada Pak
Prof.Dr Ngainun Naim atas gelar Guru Besarnya Teruslah menjadi motivator kami dalam dunia literasi .